Sejarah dan Sastra di dalam Bangsa yang Pelupa

By Taufan OA

Ir. Soekarno, barangkali, adalah orang yang bakal menorehkan nama sebagai tokoh yang paling populer di Indonesia. “Gantungkanlah mimpimu setinggi langit”, “merdeka atau mati”, “beri aku sepuluh pemuda, maka akan kugoncangkan dunia”, merupakan beberapa ungkapan patriotiknya yang sanggup menggelorakan api revolusi.

Selain ungkapan patriotiknya, Bung Karno juga dikenal dengan berbagai ungkapan politis, seperti “Inggris kita linggis, Amerika kita setrika”, “Nasakom” (Nasionalis, Agama, Komunis), ataupun “Ganyang Malaysia” – yang segera menciptakan polemik.

 Semua ungkapan-ungkapannya secara magis mampu menggerakkan jutaan massa. Soekarno adalah seseorang yang sangat kharismatik. Oleh karenanya, selain dikenal sebagai proklamator, Bung Karno juga merupakan orator yang ulung.

Terlepas dari pro-kontra mengenai Soekarno, ada satu hal ungkapannya yang menurut saya menarik dan akan terus relevan di setiap zaman. Ia, suatu ketika, pernah menyatakan ungkapan yang terkenal: Jas Merah (jangan sekali-kali melupakan sejarah). Saya setuju. Bangsa ini akan menjadi besar jika menaruh perhatian yang tinggi terhadap penelaahan sejarah.

***

Umbu Landu Paranggi, sastrawan Sumba yang pernah dikenal sebagai Presiden Malioboro, pernah berucap,” Bangsa kita bangsa pelupa, lalai, seringkali lebai, tugas puisi mengingatkan,” ungkapnya dalam suatu wawancara dengan Putu Fajar Arcana. Menurutnya, seni juga mengajarkan rendah hati, tetapi matang dalam pertimbangan. Melalui seni, ungkap Umbu, manusia mempertanyakan kembali kediriannya, Seni itu sangkan paraning dumadi.  

Saya hanya hendak menyatakan bahwa bangsa kita ini bangsa pelupa. Saya merujuk kata-kata seorang begawan sastra Indonesia agar saya tidak dianggap ngawur.

Mengapa seni? Karena seni, dengan bahasa budayanya, memungkinkan upaya ‘mengingatkan’ itu menjadi lebih lentur. Seno Gumira Ajidarma pernah menyampaikan kredo yang menarik, yaitu “ketika mulut dibungkam, sastra berbicara”.

Saya bukan seorang sejarawan. Pun sama sekali buta kemampuan menulis sebagai seorang sastrawan. Saya hanya seorang pengagum pendekatan sejarah dan penikmat karya sastra. Kedua bidang yang berbeda ini mempunyai dimensi yang sama di satu hal: mengingatkan bangsa yang pelupa!

***

Ada ucapan menarik dari sejarawan Kuntowijoyo, “Sejarawan dapat melakukan refleksi kritis melintas waktu: masa lalu, masa kini, dan masa depan.” Pemikirannya adalah menolak bahwa sejarah adalah hanya masa lalu –sesuatu yang telah terkubur– tanpa peduli relevansinya dengan masalah kontemporer. Baginya, sejarah harus mempunyai sumbangsih untuk menjadikan ilmunya bagian dari kecerdasan bersama (collective intelligence).

Dengan kata lain, sejarah harus terus-menerus dikaji untuk membangkitkan kesadaran bangsa ini: menjadi ilmu yang tak statis sebagai sebuah peninggalan –berada di sudut dan mati.

Emha Ainun Nadjib suatu ketika pernah menulis sebuah esai tentang sastrawan Ragil Suwarna Pragolapati (RSP). “Kemudian di suatu tahap kehidupannya si Warno meng-Indonesia-kannya menjadi Suwarna. Lantas menyejarahinya dengan tambahan Pragola…,” kata Emha mengungkapkan filosofi perubahan nama sastrawan Persada Studi Klub ini. RSP telah berupaya mengolah filosofi namanya, yaitu dengan mengambil tokoh yang terkandung dari sejarah: Adipati Pragola dari Pati.

Emha mengungkapkan konsep ‘menyejarahi’ yang berarti bahwa sejarah menjadi sebuah bentuk dari kata kerja. Setiap kata kerja selalu membutuhkan pelaku. Dan konteks waktu yang dimaksud Emha bukanlah masa lalu, tetapi masa kini –dan mungkin masa depan. Karena, perilaku ‘menyejarahi’ itu akan terus bergerak ke tataran masa depan, meskipun input datanya adalah masa lalu.

Dengan upaya ‘menyejarahi’ secara otomatis seseorang menjadi seorang pelaku sejarah. Dan ‘input’ sejarah yang tadinya berwujud masa lalu telah berubah menjadi masa kini –dan bahkan masa depan karena akan menjadi dasar tata sikap dan perilaku dari pelaku sejarah tersebut.

Sedangkan sejarawan, dijelaskan oleh Kuntowijoyo, bukan hanya mereka yang bekerja sebagai dosen universitas dan institusi-institusi ilmiah saja. Sejarawan adalah penulis sejarah. Titik. (Cerpenis adalah penulis cerpen, apapun pekerjaannya). Sehingga, menurutnya, mereka yang bekerja di pengalengan ikan, pertukangan sepatu, perusahaan batik, pabrik biskuit, dan dunia usaha lain tetap dapat menjadi sejarawan.

***

Jika ada yang masih mengingat kisah Abu Nawas, kedudukan sastra bisa jadi terletak pada kedudukan yang sama di dalam sistem perpolitikan. Ia (Abu Nawas) adalah seorang pribadi yang cerdas, banyak akal, jenaka, sekaligus seenaknya sendiri –seseorang dengan jiwa pemberontak. Konon, Raja Harun Al-Rasyid berhasrat benar untuk membungkamnya dengan berkali-kali tindakan untuk menyeret ke bui. Dengan polah tingkah jenakanya, Abu Nawas justru ditakuti. Ia seringkali mengkritik pemerintahan sang raja. Tidak dengan kritikan tajam, kadangkala hanya dengan tebak-tebakan yang menguji kecerdasan, di lain waktu melalui sindiran-sindiran yang disampaikan dengan tingkah polah jenaka.

Sang raja seringkali murka dengan tingkah laku Abu Nawas. Bukan karena ia terancam kedudukannya, tetapi lebih dikarenakan kewibawaannya yang jatuh di muka rakyatnya. Ia tentu saja terlihat bodoh ketika tak mampu menyelesaikan teka-teki yang diajukan Abu Nawas. Di lain hal sindiran-sindirannya mengganggu privilege-nya sebagai seorang raja yang diharapkannya memiliki kekuasaan mutlak –tidak untuk dibantah.

Namun, ketika sang raja mendengar kabar wafatnya Abu Nawas –yang ternyata hanya pura-pura meninggal, Harun Al-Rasyid meneteskan air mata dan merasa begitu kehilangan. Ia menyadari bahwa dirinya memang membutuhkan Abu Nawas, seseorang yang menyediakan dialog bagi kerja ke-mahkota-annya. Dengan meladeni tingkah laku Abu Nawas yang tidak disukainya itu, dengan segala ke-was-was-annya terhadap wibawa yang jatuh, sang raja selalu bersiap diri untuk tak menjadi konyol ketika berhadapan dengan Abu Nawas. Dengan suasana kemesraan hubungan itulah Harun Al-Rasyid menjadi raja yang baik –menyejahterahkan rakyatnya.

Begitu pula sastra. Sastra adalah Abu Nawas bagi tata pemerintahan –Harun Al-Rasyid. Ia sangat sulit dibungkam karena begitu lenturnya untuk berkata-kata, begitu tak kasat matanya ia untuk menyindir. Ia memang tak kebal hukum, tetapi seringkali lolos menghindari hukum. Sastra menggunakan ‘roso’. Ia menggebrak dengan menghujam tajam ke sudut perasaan manusia. Ia sulit terdeteksi dalam radar-radar kaidah hukum. Oleh karenanya, sastra menjadi ‘alat berbicara’ ketika kata-kata telah dibungkam. Ia tetap menjadi alat kontrol bagi tata pemerintahan, bagi hubungan kemanusiaan, bagi kaidah keadilan –seperti kata Seno Gumira Ajidarma.

***

Di dalam bangsa yang pelupa ini, untuk memahami sejarah, kita tak perlu menjadi ahli sejarah atau penghafal sejarah yang patuh seperti diajarkan di sekolah-sekolah. Memang ada benarnya jika sejarah yang disusun sebagai sejarah teks di dalam kebudayaan kita merupakan sejarah penguasa. Sartono Kartodirdjo pernah mencoba mendorong upaya penulisan sejarah yang berbasis ‘pribumi’ untuk menetralkan lagi sejarah yang ‘terkontaminasi’ kepentingan kolonial.

Kita tak perlu memusingkan kebenaran sejarah kita. Karena memang Indonesia belum (atau enggan?) menemukan sejarahnya sendiri. Meskipun, tindakan ke arah demikian (pelurusan sejarah) sudah seharusnya dimulai.

Mungkin akan lebih baik untuk menerima alternatif Emha: menyejarahi. Seperti halnya dalang yang menyejarahi kisah-kisah wayang –menyerap khasanah nilainya tanpa peduli padang Kurusetra pernah benar-benar bersimbah darah atau tidak. Atau seperti Abu Nawas yang menyejarahi kelakuan raja-raja terdahulu yang tak mempan dengan kata-kata nan tajam. Dan kita bisa menyejarahi apa saja: tragedi kemanusiaan, iklim politik, kenaikan BBM, hembusan angin, daun yang berguguran, dangdut koplo, apa saja.

Dan sastra? Kita tak perlu pusing memikirkan berbagai kredo sastra: realisme sosialis, realisme magis, sastra untuk sastra, sastra sebagai alat kritik, sastra mantra, dan lain sebagainya. Sastra lahir berkat dorongan kreativitas, yang dipandu oleh idealisme setiap pengarangnya. Jadi, wajar saja jika keputusan ‘bersastra’ kemudian menjadi berbeda.

Sejarah kebudayaan mempunyai peran yang penting, karena dengan melihat masa lalu kita akan dapat membangun masa depan yang lebih baik. Itu kata Kuntowijoyo. Kalau kata Umbu: menulis puisi (sastra) bukan untuk menjadi penyair, tetapi agar terhindar dari sakit jiwa!

Yogyakarta, 23 Desember 2017

Oleh: Arif Rahman

Tulisan ini telah dipublikasikan dalam Buletin Macapat Syafaat edisi ke-34 Bulan Agustus 2018