VAR Si Juru Selamat

By Taufan OA

Sampai dengan tulisan ini dibuat Piala Dunia 2018 sudah memasuki babak semi final. Empat tim berhasil menjadi yang terbaik. Perancis akan menghadapi Belgia sementara Inggris akan menghadapi Kroasia.

Dua tim dengan reputasi tinggi akan menghadapi tim-tim semenjana yang kini sedang memiliki generasi emasnya masing-masing. Sebut saja Eden Hazard di kubu Belgia dan ada Modric di kubu Kroasia. Menariknya baik Belgia, Kroasia atau juga Inggris dan Perancis sama-sama memiliki komposisi yang cukup merata. Mereka mengandalkan kolektivitas, tanpa begitu terbebani oleh nama besar satu atau dua pemain. Mereka juga tentunya telah mengalami, entah diuntungkan atau dirugikan, dari digunakannya VAR.

VAR adalah salah satu yang akan dikenang dari Piala Dunia 2018. Di samping soal kutukan juara bertahan, lolosnya Inggris ke semi final, atau kembali gagalnya Messi membawa negaranya berprestasi.

Sudah banyak kejadian yang melibatkan VAR di Piala Dunia 2018. Gol pertama Diego Costa saat melawan Portugal, juga penalti Griezman kala berhadapan dengan Australia hanyalah dua di antaranya. Beberapa memang menimbulkan respons negatif, tetapi tidak sedikit yang memuji teknologi ini.

VAR atau Video Assistant Referee adalah teknologi yang digunakan untuk meningkatkan akurasi pengambilan keputusan wasit di lapangan. Musim lalu, sistem ini telah mulai digunakan di FA cup, carabo cup, bundes liga dan serie A. Presiden FIFA Infantino, meyakini bahwasanya bagi pendukung, pemain dan pelatih VAR berdampak positif. Dari penelitian, VAR telah meningkatkan akurasi dari 93% menjadi 99%. Atau keputusan wasit hampir tidak memiliki kecacatan apapun.

“Kita telah melihat semua detail dan keuntungannya,” ujar Infantino. “Kita butuh mempercepat review dan mengkomunikasikan ke wasit di lapangan juga khalayak.”

Salah satu cara VAR membantu wasit adalah dengan tayangan ulang (replay) dan video gerak lambat (slow motion). Wasit dapat melakukan replay, lebih-lebih dengan gerak lambat dan dari berbagai penjuru, sehingga wasit menjadi tampak lebih cerdas dan aman dari hujatan para pendukung.

Kita mungkin dapat mengingat kembali tangan tuhan Maradona. Bisa dibilang, kini gol gaya itu telah berakhir. Sangat mudah untuk memutuskan bahwa Maradona handsball, sama dengan yang terjadi pada Pique dan Umtiti. Kita pun bisa sedikit mengurangi pembuangan energi untuk sekadar mengutuk-ngutuk pemain yang lihai melakukan diving. Kita juga berpotensi menyaksikan gol-gol keren lain, dimana bola hanya masuk sejengkal di daerah jaring.

Setidaknya VAR menjadi solusi bagi orang yang selalu memuja permainan fair play. VAR pun bisa dikata juru selamat para wasit. Sebab dengan akurasi VAR tekanan wasit pada keputusannya akan sangat jauh berkurang.

VAR telah membawa perubahan pada kehidupan manusia, lebih khususnya dalam sepakbola. Tetapi VAR tidaklah sempurna. Dalam sudut pandang lain, yang dikedepankan bukan lagi tingkat akurasi, tetapi alur pertandingan yang terganggu serta sepakbola yang tak lagi mengedepankan sisi humanis dalam diri seorang wasit. VAR berpotensi menghilangkan drama di suatu pertandingan sepakbola.

Dalam bukunya, Our Posthuman Future, Fukuyama menyatakan bahwa ancaman terbesar dari teknologi kontemporer adalah kemungkinannya merusak human nature. Francis Fukuyama sendiri mendefinisikan human nature sebagai kumpulan dari tingkah laku dan karakteristik khas dari manusia, yang munculnya lebih banyak dari faktor genetik daripada faktor lingkungannya. Drama-drama sepakbola tentu memacu sisi emosional baik penonton maupun pemain. Karenanya mungkinkah VAR juga merusak human nature?

Ah, kiranya tinggal bagaimana kita memposisikan VAR itu dimana.

Katherine Hayles mengklaim bahwa kita telah menjadi posthuman di dalam sejak di dalam pikiran kita. Dengan mengartikan sebagai wujud terjadinya simbiosis manusia dengan mesin, kiranya kita dapat mengamini bahwa VAR tidak akan merusak human nature.   Sebab, bagaimanapun teknologi memang tidak dapat dipisahkan dari evolusi manusia. Teknologi telah dan justru menjadi bagian dari kemanusian itu sendiri.

Setidaknya kita tahu VAR tidak bekerja sendiri. VAR pun kita tahu bukan menjadi pengambil keputusan. Dan VAR hanya bersifat membantu menerobos batasan-batasan yang dimiliki manusia.

Saya membayangkan bagaimana ketika VAR dipakai di Indonesia. Kemungkinannya adalah sepakbola mulai kehilangan daya pikatnya, atau sepakbola Indonesia menjadi semakin baik karena wasit benar-benar menjadi pengadil yang baik. Terlebih karena wasit akan lebih dihormati, baik oleh pemain maupun penonton.

Piala dunia 2018 hanya tinggal menyisakan kurang dari empat pertandingan. Kiranya VAR sudah semestinya mendapat apresiasi. Tak apa bukan Messi, Ronaldo atau Neymar yang menjadi jawara. Bagaimanapun bola itu bundar dan ibarat bola yang sedang menggelinding di suatu lintasan, VAR adalah pembatas yang menjaga bola agar tidak keluar dari lintasan.

Tulisan ini telah dipublikasikan dalam Buletin Macapat Syafaat edisi ke-33 Bulan Juli 2018