Generasi Milenial yang Depresi dan Dituntut Mencari Solusi Sendiri

By Taufan OA

Salah satu teman perempuan saya depresi karena ibunya menuntut agar lekas lulus kuliah dan bekerja. Hubungan antara anak perempuan dan ibunya memang sering kurang akur, karena anak perempuan lebih dekat dengan ayahnya. Namun masalah tuntutan hidup yang ia alami sebenarnya juga dialami oleh generasi milenial lainnya – mereka yang terlahir di tahun 1981 sampai 1996. Saya juga termasuk generasi milenial, dan kami memiliki masalah yang sama.

Generasi milenial terlahir di dunia yang tidak memiliki lapangan pekerjaan mencukupi. Berbeda dengan generasi orang tua mereka-generasi X dan baby boomers- yang hidup di tengah zaman pembangunan. Zaman dimana penduduk Indonesia belum sebanyak sekarang, hutan-hutan dibabat untuk lahan pertanian, berdiri pabrik-pabrik baru yang memerlukan karyawan dan tidak lupa akses jalan raya yang mulai menghubungkan daerah-daerah yang dulunya dilupakan.

Sekarang, pabrik masih terus didirikan, tetapi persaingan semakin tinggi karena pekerja asing ikut bersaing dengan pekerja dalam negeri. Jalan raya terus dibangun tetapi penuh dengan mobil-mobil berisi satu orang. Dan setelah hutan menghilang, negara ini masih mengimpor beras, gula dan garam. Dengan tantangan sebesar ini kampus-kampus justru melahirkan pekerja meski lapangan pekerjaan semakin berkurang. Mahasiswa tidak dididik agar berpikir kritis dan memiliki ketahanan menghadapi tantangan zaman. Tidak heran jika pada Agustus 2017, jumlah pengangguran di Indonesia meningkat hingga 7 juta orang – jika dibandingkan dengan setahun sebelumnya, kenaikan ini adalah sebesar 10.000 orang.

Hasilnya adalah generasi milenial yang ketakutan dan kebingungan setelah lulus kuliah. Keterampilan dan ijazahnya tidak selalu sesuai dengan persyaratan yang diajukan dunia industri. Ketika ingin berwirausaha, orang tua dan masyarakat membebani mereka dengan standar-standar masa lalu, bahwa setelah lulus kuliah harusnya jadi pegawai, bahwa setelah lulus kuliah harusnya menikah. Di tengah cibiran – bukannya solusi – itulah, generasi milenial dituntut harus mencari modal di bank-bank dengan bunga yang tinggi. Beberapa dari generasi milenial memang mendapatkan pekerjaan dan menghadapi kenyataan bahwa harga rumah makin mahal. Untuk rumah kecil atau apartemen yang paling minimalis di tengah kota saja, harganya sekitar 400 juta per unit. Sementara gaji generasi milenial – yang beruntung – sekitar 4-8 juta. Gaji sebesar itu makin terancam oleh gaya hidup konsumtif karena “dituntut” menyesuaikan diri dengan lingkungan.

Wajar jika teman saya yang belum lulus kuliah ini depresi. Demikian pula dengan generasi milenial lain di negeri ini yang meski tidak depresi, paling tidak ikut pusing, kebingungan, atau galau karena suatu hal yang tidak jelas. Dan melihat fakta ini, menurut saya tidak ada pihak yang bisa disalahkan. Pemerintah tidak bisa disalahkan atau cuma dikritik, karena hanya menambah masalah dan tidak memberi solusi, dan malah sibuk mengurusi perut sendiri. Orang tua dan masyarakat – para generasi X dan baby boomers- tidak bisa disalahkan karena mereka “Cuma” menerapkan standar hidup masa lalu dalam situasi saat ini. Institusi pendidikan juga tidak bisa disalahkan karena mematuhi sistem pendidikan negeri ini, yaitu memproduksi mahasiswa yang siap menjadi budak, bukan akademisi, bukan pemikir, atau paling tidak praktisi di bidang tertentu. Tidak lupa, pemuka agama dan organisasi agama tidak bisa disalahkan karena menambah jumlah jamaah atau menaikkan sumbangan dari jamaah saja sudah kesulitan, lha kok disuruh memperhatikan kualitas jamaah agar dapat beradaptasi menghadapi tantangan zaman.

Paling pol ya menyalahkan generasi milenial, karena tidak bisa membuat solusi atas masalah mereka sendiri. Saat sebagian besar dari mereka, lebih gemar mencari solusi hidup sambil duduk menunggu Ojek Online datang mengantarkan makanan, sebagai bekal bermain mobile legend sampai pagi.

Oleh: Affix Mareta

Tulisan ini telah dipublikasikan dalam Buletin Macapat Syafaat edisi ke-33 Bulan Juli 2018