Keberuntungan yang tak Pernah Mengenal Ruang dan Waktu

By Taufan OA

Pria itu, tak tampak seperti bandar judi yang sebelumnya kubayangkan. Bahkan, bertolak belakang. Semua orang memanggilnya El. Sedikit kuimbuhi Bos, Bos El, ketika malam ini aku menemuinya. Dan untuk itu, aku malah kena semprot olehnya. El tak mau dipanggil demikian, ia berdalih bahwa di atas bos, masih ada bos lagi dan lagi dan lagi. Aku tidak sependapat dengannya, ia hanya berusaha rendah hati. Buktinya, di seantero Asia Tenggara khususnya para pemain — sebutanku untuk pelaku judi — tidak ada yang tak pernah sekedar mendengar namanya. El, bandar judi tersukses dan menembus pasar mancanegara.

“Oke, langsung saja pada pertanyaan, bagaimana kiat sukses anda untuk menjadi bandar judi, El?” Aku seorang reporter, untuk majalah digital dunia malam.

“Tidak ada,” ia kemudian diam. Lama hingga keadaan sedikit canggung. Aku tahu, ia tak mau menjawab atau memang tak ada kiat khusus.

“Maksudku, bagaimana ceritanya hingga anda menjadi bandar judi yang sukses?”

“Maaf. Pertama, saya bukan bandar judi. Melainkan pebisnis. Kedua, saya tidak sukses. Biasa saja. Hanya melakoni passion saya.”

“Maaf, untuk penyebutan saya yang sembrono, El.” Ia mengangguk. Seraya menghembuskan asap kretek ke udara.

“Jadi, semua ini tentang passion?” aku meneruskan.

“Iya. Begitulah.” Aku seorang reporter, untuk sebuah majalah digital dunia malam. Baru setahun terakhir aktif, dan terhitung pemula. Baru sekali ini, aku menghadapi narasumber yang berat, setelah sebelumnya hanya meliput berita ecek-ecek seperti perkelahian sensasional antar disk jockey, atau mentok-mentoknya pemerkosaan turis oleh warga akibat terlalu lama jomblo dan merancap setiap harinya. Barangkali status pemula pula yang mengantarkanku pada kenyataan pahit sebagai kelinci percobaan oleh para pemimpin redaksi. Aku coba diri untuk maju, sebab aku sadar aku pula yang mengusulkan ide laporan investagasi eksklusif ini; yaitu tentang sepakbola gajah imbas dari pebisnis macam El.

El, narasumber yang berat. Sekadar untuk menemukan keberadaannya aku perlu merunut informasi dari pemain bola, manajemen tim, wasit sampai runner(penghubung bandar dan tim). Melintasi liga perjudian antara hidup dan mati. Dan keajaiban semata yang membuat El mau bertemu denganku kali ini.

Mengorek informasi detil dari El seperti halnya tukang bangunan menambang emas. Seringkali, draft pertanyaanku dibuatnya amburadul, dan betapa bodohnya aku tak mampu mengolahnya secara dinamis. Wawancara dengan El berakhir dengan memecahkan rekor waktuku sendiri selama 15 menit. Sial, batinku. Kemudian, aku mengakhiri dengan tanda mematikan perekam suara, dan pamit pada El.

“Kenapa terlalu cepat kau pergi, wahai reporter? Mengapa tak sejenak menyeduh kopi terlebih dulu bersamaku? Atau teh? Atau kalau kau suka bir, anggur, whisky juga ada.” pinta El.

Aku sedikit terkejut. Lebih-lebih khawatir. Khawatir sebab bisa jadi bujuk-rayunya semacam modus untuk menahanku, lalu ditembak jarak dekat tepat di dahi, untuk kemudian hilang tanpa jejak. Akan tetapi menolak pun bukan pilihan tepat — mata seorang bodyguard terpercaya di belakangnya mendelik kepadaku.

***

Jaelani, tumbuh menjadi pemuda yang penuh dengan keberuntungan-keberuntungan yang tak pernah habis. Seringkali Jaelani sesumbar di depan kawan-kawannya ketika seusai judi dadu, yang sesungguhnya seperti sukarela memberi uang padanya, “aku ini hanya beruntung, tidak lebih dari itu.” Sedangkan, kawan-kawannya yang tengah mabuk berat, dengan kaos yang mereka gantung di pundak, hanya mengiyakan. Sampai suatu saat, ketika keberuntungan Jaelani tak kunjung usai, ketika kawan-kawannya judi dadu lagi, untuk membayar atau malah menambah hutang, melarang Jaelani ikut bermain. Bikin bangkrut saja! Demikian kata mereka serentak.

Perihal keberuntungan, memang Jaelani menggilainya. Terkadang cenderung berlebihan, meski akhirnya ia tetap beruntung. Ia ingat, saat pertama kali mendengar idiom perihal keberuntungan dari kakak perempuannya, yang juga merasa sering beruntung berkata, “Orang paling cerdas, masih kalah dengan orang giat belajar. Orang giat belajar, masih kalah dengan orang beruntung.”

Sejak saat itu, dengan bijak Jaelani merangkumnya, berarti aku harus menjadi orang yang cerdas dan giat belajar, sekaligus beruntung! 
Sebab, kalau hanya cerdas, semenjak lahir ia telah bermodalkannya. Katakanlah ketika SD, perhitungan kali-bagi, tambah-kurang, hafal di luar kepala. Baca-tulis hanya seperti berak pada setiap pagi. Sedangkan giat belajar, paling tidak ia selalu mengerjakan PR. Hanya saja tentang keberuntungan, ia harus terus melatihnya. Tidak bisa tidak, pikirnya. Dan satu-satunya media paling tepat menurutnya adalah judi. Ya, permainan yang bagi banyak orang contoh dari mengundi nasib dengan anak panah padahal bukan, justru amat digilai Jaelani.

Pernah suatu kali Jaelani terpuruk karena berbulan-bulan ia dikepung kesialan-kesialan tak berperi, segala keberuntungan-keberuntungan sebelumnya seakan tak berarti apa-apa. Begitu saja hilang. Lenyap. Dan ia merasa bahwa ada sesuatu yang hilang. Tanpa sesuatu itu keberuntungan tidak mungkin hadir. Yaitu kebahagiaan. Ya, kebahagiaan adalah rasa yang menunjang keberuntungan. Maka, ia mulai mengundang keberuntungan dengan bertaruh lagi, anak tetangganya yang akan lahir laki-laki atau perempuan, celana dalam yang sedang dipakai orang lain warna apa, cinta temannya akan diterima atau ditolak. Seremeh itu dan hasrat keberuntungan datang kembali.

Hingga karir kemenangannya beranjak pulih. Lalu Jaelani menyebut dirinya: pebisnis.

***

Aku sepenuhnya paham, sebagai pebisnis, El tak ingin sepenuhnya terbuka terhadap media. Tapi sebagai manusia, ia sangat terbuka padaku. Kami seakan terbuai oleh alunan anggur. Ceritanya mengalir begitu saja tanpa kuminta. Terutama perihal peranannya di ranah sepak bola. Bahkan tentang topik yang aku rencanakan sebelumnya.

“Seingatku, saat itu seseorang memintaku menghubungkannya dengan seseorang lain, agar timnya bisa promosi ke liga utama,” cerita El. 
Aku tahu tim itu. Tapi aku diam saja.

“Tanpa harus mencari, mereka yang datang padaku. Bukankah itu yang namanya beruntung?” El minta pendapatku, dan diikuti tawanya yang meledak-ledak.

“Ya, betul. Tapi, El….”

“Apa? Katakan saja.”

“Bagaimana pendapatmu tentang pemain yang dihukum akibat mencetak gol bunuh diri saat sepak bola gajah? Kebanyakan dari mereka tak bisa main bola lagi. Padahal….”

“Ah! Kau tak paham juga rupanya? Mereka hanya tidak beruntung,” El memotong kalimatku yang belum usai.

“Sungguh banyak orang-orang yang tidak beruntung di muka bumi ini ya, El,” tukasku.

“Maksudmu apa?”

***

Aku seorang reporter, untuk sebuah majalah digital dunia malam. Baru saja usai mewawancarai bandar judi kelas kakap. Salah satu perannya mendalangi promosi sebuah tim naik ke liga utama Indonesia. Yang berimbas pada pertandingan sepak bola gajah tim lain. Sayang sekali, tanpa data rekaman yang tak utuh pada pertemuan tersebut, aku tak bisa seenaknya melaporkan dan menuliskannya. Apalagi mesin lebih tak bisa menuliskannya, datanya tak mungkin ada di internet, kalau saja informasinya ada, tak terbukti keabsahan kebenarannya.

Lagipula, setelah pertemuan tersebut, bandar judi itu tewas dibunuh oleh orang misterius. Tak terkecuali para pengawalnya. Habis diberondong senapan otomatis, yang kabarnya senjata kelompok bandar judi itu sendiri. Maka yang kutulis sekadar berita ecek-ecek seperti biasanya, dengan judul: Bandar Judi Tewas, seperti Pepatah: Senjata Makan Tuan.

Oleh: Khatmil Imam

Tulisan ini telah dipublikasikan dalam Buletin Macapat Syafaat edisi ke-33 Bulan Juli 2018