Sapa Purnama

By Taufan OA

untuk: Muhammad Sang Kekasih

Malam masih di beranda saat aku menyalami bulan.
Tubuhnya kuat, sebuah tanda. Dzikir selalu memeluk
di antara debunya. Hangat.
Sangat jelas cahaya dari atma. Memancar memberi
salam; semoga ternaungi.

Dia mengatakan aku beruntung, bumi mengasihi;
Melalui udara, sepi, tanah, dan mati. Apalagi
Tentang gravitasi. Matanya sayu tapi tetap membakar.
Kutanyakan, “mengapa?”
Sungguh bulan berhasrat, kening yang menyebar
di tanah. Sujud.

Menangis. Itu yang bulan mulai saat ini. Tubuh
gagahnya pernah terbelah. Ingatan terus
mengalir, mengisi setiap sudut kenangan.
Pada Muhammad:
Cinta karna pernah ada, lalu kini purnama nestapa.

“Kau ingin dibelainya?,” tanyaku dengan lirih.
Sungguh ia menjerit, menanti barang sekedar
lambaian salam yang pernah dirasa oleh bumi.
Bahkan dipijak. Bahkan dijadikan singgasana.
Dan bahkan tubuhnya sebagai sajadah sujud.

Kini dan terus, hanya bisa menenun puji. Dipintalnya
kerendahan dahulu. Untuk sang Kholik, katanya.
Tapi, lihatlah bumi: yang bulan katakan sebagai
sajadah. Tanahnya kini sebagai ladang dusta.
Buahnya seperti darah dan air sengsara. Bunganya
berbentuk kejahatan dan beraroma busuk.

“Lantas, apakah Muhammad mau menyapaku?”
Tanya purnama. Yang mulai terhapus fajar.
Aku menjerit melalui hening dan tangis:
Kau beribu berhak, karena sapa yang setia.

April 2018

Oleh: Dyas Bach

Tulisan ini telah dipublikasikan dalam Buletin Macapat Syafaat edisi ke-32 Mei 2018