Menemukan Kedamaian Bersama, “Diri Kita Bukan Kita Sendiri”

By Taufan OA

Malam mulai merambat naik, kala satu persatu jamaah mulai berdatangan. Secara mandiri memarkirkan kendaraannya masing-masing dengan tertib, kemudian mencari tempat yang kosong. Duduk di depan panggung, atau di selasar teras rumah warga sambil menikmati secangkir kopi, atau semangkok Indomie jika lapar. Tidak ada kegaduhan, pencurian atau apa pun. Walau jumlah jamaah yang datang puluhan bahkan ratusan, masing-masing saling menjaga, mengamankan diri, satu sama lain.

Pada Mocopat Syafaat Bulan Mei ini, Mbah Nun berhalangan hadir di atas panggung, dikarenakan sedang uzlah. Sehingga menjadikan alasan utama beberapa kawan ingin pulang supaya bisa sahur di rumah. Seorang kawan yang tinggal tampak mulai gelisah. “Ini pada mau ketemu Mbah Nun apa mau macapatan to sebenarnya? Lalu siapa nanti yang mau nemenin jualan sampai pagi kalau pada pulang semua?” begitu katanya meyakinkan teman yang lain. Akhirnya, setelah perdebatan panjang, rokok mulai dinyalakan, kopi lalu dipesan lagi.

Di Maiyah kita memang diajarkan untuk mandiri, sehingga tidak tergantung pada sosok, melainkan sama-sama belajar dari siapapun bahkan apa pun. Tampak di atas panggung ada Pak Toto, Mas Harianto, Mas Helmi dan Mas Jamal, kemudian disusul oleh Mas Sabrang. Acara dibuka oleh Mas Helmi yang kemudian menyerahkan mikropon ke Pak Totok untuk ikut iuran bicara.

Pak Totok memberi uraian-uraian singkat bahwa sekarang beliau tidak bisa sampai malam karena harus menyiapkan sahur di rumah. Dan tentu uraian dari Pak Totok bukan tema pembahasan macapat malam ini melainkan sebuah sentilan dari  Pak Mus tentang uraian doa (Fainni qarib). Doa yang paling umum dipanjatkan muslim setiap hari ialah mendoakan sesama muslim, tapi kenapa tetap terjadi konflik. Salah satu konflik yang kemarin terjadi ialah teror bom di surabaya.

Menurut Pak Totok setiap orang punya kecenderungan meneror. Tujuan utama teroris membuat orang risau, tidak nyaman yang merupakan bagian dari strategi agar tujuannya tercapai. Maka teror itu hal biasa, dimana-mana ada.

Pak Totok melanjutkan, bahwa tentang konflik ini ada hubungannya dengan uraian Mbah Nun tentang kebenaran, kebaikan dan keindahan. Nah teror bom yang terjadi kemarin mungkin bagi teroris merasa melakukan hal benar, tapi tidak baik dan tidak pula indah. Hal yang tidak baik dan juga tidak indah apakah masih perlu dibagikan di media sosial? Lagipula belum tentu berita tentang teroris itu benar. Jadi, sebaiknya di bulan ramadan ini kita tidak hanya puasa makan dan minum tapi juga puasa menyebarkan hal-hal tentang teroris di media sosial.

Kembali ke tema awal kenapa ketika kita mendoakan sesama muslim tidak diijabah, menurut Mas Haryanto, itu karena Allah tidak dilibatkan dalam keseharian kita. Keterlibatan ini perlu agar kita dekat dengan Allah. Karena dari kedekatan itulah bagaimana kita seperti menyampaikan doa tanpa ada penghalang dan lebih mudah tersampaikan.

“Nah, sekarang bagaimana kita menganggap agama bukan hanya sebagai kumpulan nilai tapi juga kumpulan strategi agar senantiasa dekat dengan Allah.” Kata Mas Haryanto, sebelum Kiai Kanjeng melantunkan lagu ciptaan Pak Is berjudul “Wahai Muhammadku”.

Suasana bertambah semarak dan akrab, meski jamaah tidak sepadat biasanya.

Pada akhir sesi, Mas Sabrang juga menambahkan bahwa sebenarnya fenomena terorisme adalah kesalahan semua orang. Karena kita tidak mengenal diri sendiri. Menurutnya kita tidak bisa mengalami apa pun ciptaan Tuhan kecuali diri sendiri.

“Yang paling dicintai oleh kita adalah diri sendiri. Maka mari kita meluaskan diri kita, menyadari bahwa diri kita bukan kita sendiri,” tambah Mas Sabrang. Makanya sudah seharusnya kita mengasihi orang lain sama seperti kita mengasihi diri sendiri. Sehingga tercipta kedamaian bersama.

Sebagai puncak, dilantunkanlah “Ruang Rindu,” mengobati dahaga kerinduan pada yang maha sejati. Acara kemudian ditutup oleh doa bersama dipimpin oleh Pak Mustofa W Hasyim.

Oleh: Muhammad Ihsan