Hanya Tiga Poin Saja yang Mampu Saya Catat Setelah Membaca Buku Ini

By Taufan OA

Judul: Makrifat Cinta

Penulis: Candra Malaik
Penerbit: Naura Books
Cetakan: Januari, 2013
Tebal: xxxiv+270 hlm.

Sebenarnya saya bingung untuk menulis ulasan tentang buku ini. Pertama, karena saya bukan seorang muslim yang rajin mengkaji ilmu islam (re: aktif ikut kajian agama atau jebolan pondok pesantren atau jebolan sekolah tinggi yang mempelajari ilmu islam). Kedua, karena saya minim bacaan tentang kajian islam. Dan ketiga, apa ya? Ya intinya mah, hanya muter-muter di alasan itu saja. Jadi, tidak usah saya panjangkan lagi penjelasannya.

Ok. Ketiga poin yang mampu saya catat setelah membaca buku ini, yaitu:

[1]

Lewat buku ini saya diajak untuk berkenalan lagi dengan agama yang saya warisi dari kedua orang tua saya, mbah-mbah saya, buyut-buyut saya, para leluhur saya dan pendahulu-pendahulu saya yaitu Agama Islam. Agama yang belum lama ini bak menjadi serial drama di teve-teve dan berita daring (bagi yang mengikuti). Yang tentunya sekarang sudah mulai tergantikan dengan drama-drama baru.

[2]

Buku ini merupakan buku kedua karya Gus Candra yang saya baca. Buku pertama yaitu buku Meditasi, mengenal diri kita sendiri. Sebuah buku yg intinya juga menjadi inti dari buku ini “Makrifat Cinta”. “Man arafa nafsahu faqad arafa Rabbahu: Barangsiapa mengenal dirinya, ia mengenal Ilahi”. Mengenal Allah terlalu muluk. Mengenal diri itulah Suluk.

Dalam buku ini dituliskan tentang pelajaran mengenal diri sendiri dibangun dalam empat pilar. Syariat (jalan), Terekat (cara berjalan), Hakikat (alamat perjalanan) dan Makrifat (tujuan perjalanan). Keempat pilar itu harus saling berdiri dan tidak merobohkan.

Seperti halnya sebuah pernikahan, serah terima (ijab-qobul) adalah syariat yang harus ditempuh, yang menjadi tarekat adalah resepsi pernikahan itu yang penuh puja-puji sesuai kedudukan dan keadaan masing-masing. Hakikat dari perkawinan itu adalah segala apa yang ditutupi oleh kelambu dan yang sejak malam pertama disebut aib, tabu, dan rahasia–yang hanya suami dan istri yang tahu, dan makrifat dari pernikahan itu adalah mengakrabi-diakrabi antara yang mencintai dan yang dicintai.

[3]

Ketiga, untuk mengahiri ulasan ini, saya kutipkan perkataan teman saya ketika saya ngobrol iseng dengan dia tentang “Jika saya jadi santri”. Yaitu,  “Kita belajar agama di pondok pesantren, lingkar kajian islam dan sebagainya bukan untuk menjadi kiai atau mendapat gelar ustaz, tapi agar hidup kita lebih maslahat.”

Kenapa saya kutipkan perkataan teman saya itu, karena setelah membaca buku ini, saya teringat perkataan teman saya saat melewati gang selebar kira-kira satu setengah meter, saat berangkat shalat jumat.

Oleh: Aziz Rifai

Tulisan ini telah dipublikasikan dalam Buletin Macapat Syafaat edisi ke-34 Bulan Agustus 2018